Penerjemah: Ibnu Setiawan
Penyunting: Wendratama
Perancang Sampul: Andreas Kusumahadi
Cetakan I, Oktober 2007
Penerbit Bentang

Aku menggelengkan kepala. “Tidak. tapi kenal banyak orang China di New York. Bagi mereka kematian adalah perayaan atas hidup almarhum.”
Josephine terlihat ragu. “Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merayakan kematian,” akhirnya dia berkata.
“Bukan begitu, ” kataku kepadanya. “Hidup-lah yang kaurayakan. Semuanya. Bahkan akhir hidup itu sendiri.”

Vianne Rocher bersama putrinya, Anouk, tiba di Lansquenet-sous-Tannes saat ada karnaval menyambut hari rabu Abu: hari yang mengawali masa Pra-paskah umat Kristiani, pastor membuattanda salib dengan abu pada dahi umat. Pra-Paskah adalah sebulan masa puasa dan persiapan menyambut Paskah. Lansquenet-sous-Tannes adalah sebuah desa berpenduduk tak lebih dari dua ratus jiwa yang terletak di antara Toulouse dan Bordeaux. Penduduknya tidak terlalu ramah sebenarnya, tapi Vianne merasa Lansquenet-sous-Tannes cukup bagus untuk menetap. Tambahan lagi, Anouk menyukai tempat ini dan meminta untuk tinggal.

Vianne memutuskan untuk tinggal di desa itu dan membeli sebuah rumah bekas toko roti yang terletak di depan gereja desa. Semua penduduk mengira Vianne juga akan membuka toko roti, tetapi mereka keliru, karena Vianne ternyata mengubah tempat itu menjadi toko cokelat, yang menurut mereka tidak terlalu pas, karena Lansquenet-sous-Tannes hanyalah sebuah desa kecil. Membuka toko cokelat adalah impian Vianne sejak dulu. Meski sering mendapat cibiran ibunya, tetapi dia selalu mengumpulkan resep-resep masakan dan terutama cokelat di sepanjang pengembaraan mereka.

Vianne kecil hidup mengembara bersama ibunya, berpindah-pindah dari Nice, Paris, New York, Naples, Milan, Roma, Unter den Linden, San Pedro, Lisbon, dan kota-kota lainnya. Ibunya tak pernah mengajaknya tinggal terlalu lama di suatu tempat, dia selalu berpindah. Yang pada akhirnya, Vianne memahami kalau ibunya hendak melarikan diri dari sesuatu. Ibunya mengidap kanker, dan dia berusaha melarikan diri dari kematian dan musuh bebuyutannya, si Pria Hitam.
Toko cokelatnya bernama Le Celeste Praline. Menjual berbagai macam variasi cokelat yang teramat menggiurkan. Tadinya Le Celeste Praline sepi pengunjung. Tapi pada akhirnya beberapa penduduk desa menjadi langganan tetap toko cokelat Vianne. Agar para pengunjungnya bisa duduk dan menikmati secangkir cokelat panasnya, Vianne menaruh beberapa kursi tinggi sehingga Le Celeste Praline mirip sebuah café. Le Celeste Praline yang terletak di depan gereja membuat pastor setempat, Reynaud, membencinya. Karena sehabis menghadiri misa, para jemaatnya selalu membeli cokelat bukannya berpuasa mengingat Februari adalah bulan menjelang paskah.

Vianne Rocher dan Anouk juga dianggap telah memberi pengaruh buruk bagi penduduk desa oleh sang pastor karena dia dan anaknya tidak pergi ke gereja. Beberapa jemaatnya juga mulai berani menentang kata-katanya, bahkan Josephine Muscat berani meninggalkan suaminya Paul-Marie Muscat dan memilih tinggal bersama Vianne. Tapi Vianne mendapat dukungan dari Armande Voizin, seorang nenek tua yang sangat menentang gereja dan terutama Pastor Reynaud. Armande dianggap gila dan dikucilkan, tinggal di pinggir sungai Tannes. Dia menentang keras anjuran anaknya, Caroline Clairmont untuk tinggal di panti meski dia terkena diabetes parah. Dia juga menolak diet yang dibuat dokter, memutuskan untuk menikmati sisa hidupnya dengan makan makanan favoritnya.
Kebencian sang pastor pada Vianne didukung oleh Caroline Clairmont, yang sebal karena ibunya, Armande, dan anaknya, Luc berteman dengan Vianne. Mereka merencanakan akan memboikot festival cokelat yang akan diadakan oleh Vianne tepat di hari paskah. Mereka menyebarkan selebaran yang isinya menjelek-jelekkan Vianne dan toko cokelatnya. Berhasilkah rencana jahat mereka?

Novel ini beralur lambat dengan dua pencerita, Vianne dan Reynaud. Mereka menyimpan kebencian dan ketakutan satu sama lain. Ditulis dengan bab berjudul tanggal dan bulan bak diari, dari 11 Februari sampai 31 Maret. Oh ya, deskripsi variasi cokelat, dari chocolat chaud, espresso, chococcino, mocha, boudin, trouffle cokelat, bikin ngiler bangeeeet. Apalagi sepertinya si Vianne dikisahkan sangat jago bikin macam-macam cokelat berikut menghias dan menyajikannya, hmmmmm, tambah ngiler. Endingnya juga melegakan sekaligus lucu. Oh, ya Chocolat juga udah ada filmnya, katany siy filmnya juga bagus, harus nonton kayaknya.