
Judul: Teras Terlarang
Penulis: Fatima Mernissi
Penerbit Mizan
Kemaren, sambil nunggu daus mewawancarai salah seorang nara sumber untuk tesisnya, gue baca lagi bukunya Fatimah Mernissi, Teras Terlarang. Gue beli buku itu Sepetember 2001. Dulu gue terkesan banget sama buku itu. Gue juga inget buku itu dipinjam Riri bertahun-tahun, dipinjam Asfi setahun, hehehe, masih inget gue! Yang jelas I find that this book is still inspiring till now. Gue bahkan sampai terkagum-kagum ternyata dulu gue juga udah mengapresiasi buku ini dengan bagus (shah).
Buku ini bercerita masa kecil Fatima Mernissi, yang tinggal di sebuah harem domestik yang terletak di Fez, sebuah kota di Maroko. Ini berarti dia tinggal dengan keluarga besarnya, yang terdiri dari nenek, paman, sepupu, bibi, dll. Dan yang paling menjemukan adalah para perempuan dikurung di dalam harem tanpa boleh keluar dari rumah, karena di depan ada penjaga pintu, si Ahmed, yang galak. Di sana juga batas (hudud) antara lelaki dan perempuan yang tidak boleh dilanggar.
Beruntunglah Fatima lahir di zaman yang para perempuan sudah mulai sadar akan persamaan haknya dengan lelaki. Neneknya, Yasmina, yang hidup bersama 7 madunya selalu mengatakan bahwa dia bahagia nanti pada zaman Fatima, para perempuan tidak usah harus berbagi suami seperti dirinya. Karena dia harus menunggu 8 hari untuk bisa berduaan dengan suaminya, karena suaminya punya 8 istri termasuk dirinya. Meskipun menurutnya dia juga harus bersyukur karena para istri Raja Harun al-Rasyid, salah seorang raja di Baghdad, harus menunggu selama hampir tiga tahun (sembilan ratus sembilan puluh sembilan malam) untuk sekadar berduaan dengan suaminya karena sang raja punya seribu jaryas (gadis budak). Sadis gak siy?
Untuk Yasmina yang hidup di zaman itu, gue sangat kagum pada pemikiran-pemikirannya, nasihatnya untuk Fatima, dan cara-caranya menyelesaikan masalah dengan madu2nya tanpa merasa benci ataupun cemburu. Pada zaman itu, perhimpunan perempuan muslim di Maroko tengah berjuang bagi penghapusan poligami. Akan tetapi, pembuat undang-undang, kaum laki-laki, menyatakan bahwa poligami adalah hukum syariah, hukum agama, tidak dapat diubah. Bahkan kaum fundamentalis mengeluarkan fatwa bahwa tuntutan perhimpunan perempuan tersebut adalah bid’ah. Pembelaan kaum fundamentalis atas poligami dan perceraian dalam praktiknya merupakan serangan terhadap hak-hak perempuan untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan hukum. Mereka hendak menunjukkan bahwa hukum ini bukan hendak melayani perempuan atau melindungi hak mereka atas kebahagiaan dan perlindungan emosional. Hwaaa sedih ya?
Banyak hal-hal yang disampaikan oleh nenek maupun ibu Fatima ini yang kugarisbawahi, di antaranya adalah:
1. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang perempuan, ketimbang disisihkan. (ini disampaikan nenek Fatima saat mengomentari Raja Faruk (salah seorang raja Mesir) yang menceraikan Ratu Farida karena sang Ratu tak melahirkan anak laki-laki.
2. Ketika Fatima terjun dari teras hingga lututnya berdarah, ibunya berkata bahwa masalah utama perempuan dialam kehidupan ini adalah bagaimana mendarat. Setiap kau berpikir untuk berpetualang, kau harus berpikir bagaimana mendarat, bukan bagaimana mendaki. Jadi, kapan saja kamu hendak terbang melayang, pikirkan bagaimana dan di mana kamu akan mendarat.
3. Yasmina meminta Fatima berhati-hati dalam menilai benar-salah. Menurutnya, ada sesuatu yang termasuk kedua-duanya, dan ada pula yang tidak termasuk kedua-duanya: “Kata-kata ibarat bawang, semakin banyak kulit yang kamu kupas, semakin dalam makna yang kautemukan. Dan ketika kau mulai menemukan kemajemukan makna , salah dan benar tidak lagi relevan.”
Masih banyak lagi kearifan yang akan kaudapat dari buku ini (shaaah). Dan banyak sekali hal-hal lucu yang dilakukan oleh perempuan-perempuan dalam harem itu untuk mengisi waktu mereka yang terkurung sepanjang hari di dalam harem. Dari memainkan operet yang wanita sekali, sampai mengendap-endap keluar dari harem demi menonton bioskop, atau bahagianya ibu Fatima dengan sekadar punya waktu bersama keluarga intinya di teras tiap malam bulan purnama.
Baca deh, gak nyesel kok.