Judul: Grass for His Pillow
Pengarang: Lian Hearn
Penerbit Matahati
Buku ini merupakan buku kedua dari novel trilogi karya Lian Hearn. Buku pertamanya Accross The Nigtingale Floor juga dah gue baca dan gue terkesan banget sama novel itu, makanya novel keduanya gue harus baca juga.
Di buku kedua ini diceritakan Takeo yang terpaksa menuruti kaum Tribe dan meninggalkan Kaede yang dicintainya serta tahta Klan Otori yang diwariskan kepadanya. Ini merupakan pilihan yang sulit bagi Takeo, secara dia dah bersumpah sama Shigeru akan meneruskan Klan Otori. Diceritakan bagaimana Takeo diajari bagaimana menjadi Tribe sejati yang kerjannya bunuh orang dan keras hati. Dalam diri Takeo sendiri sering terjadi pertentangan antara mau jadi kaum Hidden tempat dia dilahirkan yang sangat menghormati kesetaraan manusia, jadi bagian dari klan otori yang ksatria tempat dia tinggal sejak desa Hiddennya dihanjurkan klan Tohan, atau menjadi Tribe sejati karena dia mempunyai bakat kaum Tribe kelas tinggi: dia bisa menghilang, membelah diri jadi dua, dan mampu mendengar apa pun dalam jarak yang jauh.
Dia akhirnya meninggalkan Tribe dan bermaksud menjalankan amanat Shigeru untuk memimpin Klan Otori. Hal ini membuat kaum Tribe marah dan bermaksud membunuhnya. Kaum Tribe sangat cerdik dan jahat sehingga Takeo sangat berhati-hati.
Sementara Kaede sangat sedih karena terpisah dari Takeo. Dia akhirnya pulang ke tanah kelahirannya di Shirakawa. Di sana dia mendapati kenyataan pahit. Ibunya sudah meninggal, keluarganya jadi miskin karena kalah perang, dan bencana badai yang melanda daerah Shirakawa, serta ayahnya yang setengah gila, dan sakit-sakitan.
Kenyataan ini ini membuat Kaede harus membuat keputusan bahwa dialah yang akan memimpin wilayah ayahnya dan wilayah maruyama yang diwariskan Lady Maruyama kepadanya. Tetapi hal ini terganjal oleh ayahnya sendiri. Di zaman dulu sangat aneh perempuan memimpin sebuah klan. Bahkan bahasa dan tulisan yang dipakai laki-laki pun berbeda dengan bahsa dan tulisan yang digunakan perempuan. Kaede justru terpacu untuk melawan tradisi, dia belajar bahasa dan tulisan laki-laki. Dia bermaksud memimpin dan tidak bersedia menikah dengan siapa pun kecali dengan Takeo yang dicintainya.
Di sini juga diceritakan Kaede yang mengandung bayi Takeo, namun kemudian Kaede mengalami keguguran dan hampir mati karena peristiwa itu. Berita sakitnya Kaede sampai ke Takeo dan ini membuatnya sangat sedih. Derita Kaede saat merindui Takeo sangat menyentuh dan membuat gue membayangkan seandainya gue mengalami hal itu pasti hampir tak sanggup menjalani hidup. Kaede memang sering bermaksud bunuh diri, tetapi dia selalu disemangati oleh Shizuka, pelayannya yang sangat baik hati, meski dia juga anggota Tribe.
Di akhir kisah, Takeo dan Kaede bertemu dan kemudian menikah. Hal ini sangat membahagiakan mereka (meski cara penceritaannya gue gak suka, gue pikir disajikan dengan dialog, tapi hanya narasi, padahal bagian ini yang gue tunggu-tunggu). Pernikahan Takeo dan Kaede membuat posisi mereka kuat, karena mereka menggabungkan wilayah kekuasaan masing-masing. Seorang teman mereka mengingatkan untuk menikmati kebahagiaan ini, tapi dia bilang dia khawatir kebahagiaan itu cuma berlangsung sebentar.
Huwaaaaa, gue bacanya serius banget, sampai merasakan bagaimana sedihnya Takeo dan Kaede. Sampai pengen nangis, niy. Pokoknya seru deh. Kalian harus baca.