
Pengarang: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani Nugrahani
Penerbit: Qanita-Mizan
ATSS adalah novel kedua dari Khaled Hosseini. Aku belum baca novel pertamanya, The Kite Runner karena setelah baca review dari beberapa orang yang membacanya, TKR supersedih gitu. Dan aku sebenarnya gak suka novel sedih. Perasaanku akan gloomy selama beberapa waktu sesudah membacanya. Dan ATSS juga sukses membuatku berlinang air mata, tersedu-sedu saat membaca beberapa bagian yang paling menyayat hati, dan benar saja, perasaanku sedih melulu sampai sekarang. Hihihihihi ….
Mariam
Atss bercerita tentang Mariam, si anak haram dari Nana dan Jalil Khan. Sejak lahir Mariam tinggal di kolba bersama Nana. Tiap minggu Jalil mengunjunginya. Dan selama seminggu, Mariam menanti-nanti kedatangan Jalil untuk mendengar cerita-cerita tentang kejadian yang tak pernah dilihatnya selama hidupnya. Mariam merasa Jalil amat menyayanginya, jadi segala ucapan Ibunya yang menjelek-jelekkan Jalil tak dihiraukannya. Melihat Mariam yang tampak begitu memuja Jalil, Nana mengancam kalau sampai Mariam meninggalkannya, maka ia akan bunuh diri.
Rasa penasaran Mariam akan kehidupan kota yang selama ini hanya didengarnya dari cerita Jalil membuatnya tak kuasa menahan keinginan untuk mengunjungi Jalil di rumahnya. Dengan nekat, Mariam menuju rumah Jalil sendirian. Dia begitu ingin makan es krim, nonton di bioskop kepunyaan Jalil, dan bertemu dengan saudara-saudara tirinya di rumah Jalil. Dan kenyataan membukakan mata Mariam bahwa selama ini apa yang dikatakan ibunya benar. Jalil tak membukakan pintu rumahnya bagi Mariam. Dia pulang dengan hati amat terluka dan mendapati hatinya semakin hancur ketika menyaksikan ibunya mati gantung diri. Nana melaksanakan ancamannya.
Sepeninggal ibunya, Mariam tinggal bersama Jalil, dan oleh ibu tirinya dia dipaksa kawin dengan Rasheed, seorang duda yang umurnya hampir dua kali lipat dari usianya. Menikah dengan Rasheed membuat Mariam harus meninggalkan Herat dan tinggal di Kabul. Pada awalnya, Rasheed bersikap baik pada Mariam, tapi setelah Mariam beberapa kali gagal memberinya keturunan, Rasheed memperlakukannya bak hewan. Dia gemar berkata-kata kasar, menyiksa, dan bahkan memukuli Mariam. Sekadar contoh perlakuan untuk menggambarkan kejahatan Rasheed: sepulangnya dari menjual sepatu (Rasheed seorang tukang sepatu), Mariam selalu menyediakan makanan. Rasheed marah karena menurutnya nasi masakan Mariam sangat keras. Dengan sadis, dia menjejalkan batu dan pasir ke mulut Mariam dan menyuruhnya mengunyahnya. Katanya sekeras itulah nasi masakan Mariam. (Pas baca ini aku sedih banget dan rasanya pengen membacok Rasheed. Huh!)
Laila
Di Kabul, Rasheed dan Mariam bertetangga dengan sebuah keluarga Hakim, yang mempunyai tiga orang anak, di antaranya adalah Laila. Ia lahir saat Mariam sudah tinggal bersama Rasheed. Laila memiliki teman sepermainan yang bernama Tariq. Mereka berdua tak terpisahkan sejak kecil. Tariq yang berkaki buntung, akibat terkena ranjau, sering menggunakan kaki palsunya untuk mengusir anak-anak yang menggoda Laila.
Saat sama-sama tumbuh dewasa, mereka saling jatuh cinta. Pada saat itu, Kabul dalam keadaan yang sangat tidak aman. Para pejuang Mujahidin yang selama ini berjuang untuk membebaskan Afghanistan dari kekuasaan komunis Rusia mulai berhasil mengusir tentara Rusia dari Kabul. Tapi justru terjadi konflik antarsesama pejuang muslim itu sehingga terjadi hujan bom dan rudal di dalam kota Kabul. Tentu saja yang jadi korban adalah penduduk sipil. Tariq dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi, sementara keluarga Laila tetap bertahan. perpisahan yang tak terelakkan antara Tariq dan Laila teramat menyedihkan.
Sepeninggal Tariq, Laila berusaha bertahan demi ayahnya. Sampai suatu saat, ayahnya berhasil meyakinkan ibu Laila untuk mengungsi meninggalkan kabul. Saat keluarganya sedang mengepak barang-barang, sebuah bom meledak dan menewaskan ayah dan ibu laila. Laila selamat dan dirawat oleh Mariam dan Rasheed. Singkat cerita, akhirnya, Laila menjadi madu Mariam. Hubungan mereka awalnya tidak baik, namun kemudian, Mariam dan Laila saling menyayangi dan bersatu dalam menghadapi kekejaman Rasheed.
Tariq ternyata masih hidup. dia tiba-tiba muncul dan membuat Laila amat berbunga-bunga sekaligus teramat sedih. Kedatangan Tariq membuat Rasheed amat cemburu hingga dia memukuli Laila. Mariam yang berusaha menyelamatkan Laila, memutuskan untuk membunuh Rasheed. Mariam menyuruh Laila segera meninggalkan Kabul bersama Tariq dan anak-anaknya. Dia mengorbankan dirinya dengan menyerahkan diri ke polisi hingga akhirnya harus dihukum mati. Akhirnya, Laila dan Tariq dapat bersatu kembali. Mereka segera menikah setelah tiba di Pakistan. Kebahagian bisa berkumpul kembali dengan Tariq serasa mimpi bagi Laila. Penderitaan dan kesedihannya selama ini serasa tak berujung. Namun, kini dia juga masih menyimpan kesedihan untuk Mariam.
Setelah Kabul dirasa cukup aman, Laila mengajak Tariq untuk kembali ke kampung halaman mereka. Laila terngiang-ngiang puisi mengenai Kabul yang amat disukai ayahnya. Puisi karya Saib-e-Tabrizi yang ditulis pada abad ketujuh belas:
“Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atapnya,
Ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dindingnya.”
(duuuuh, aku masih merinding bacanya:D)
Sebelumnya, Laila memutuskan untuk mampir ke Herat mengunjungi kolbanya Mariam. Ini adalah bagian yang amat mengharu biru. Kolba Mariam masih berdiri, Jalil telah lama meninggal dan meninggalkan surat wasiat untuk Mariam. Dalam suratnya itu, Jalil mengungkapkan permintaan maafnya karena perlakuannya pada Mariam. Suratnya begitu dalam menceritakan betapa ia amat menyesal telah menyia-nyiakan Mariam. Beserta surat itu juga terdapat keping film yang setelah diputar, ternyata adalah film disney pinokio yang dulu sering diceritakan Rasheed pada Mariam saat ia mengunjunginya di kolba. dalam surat Jalil juga terdapat uang warisan buat Mariam. Sepulang dari Herat, laila beserta keluarganya kembali ke kabul dan berusaha berkontribusi untuk kemajuan negerinya. Laila ingin mewujudkan impian ayahnya
Khaled Hosseini menceritakan dengan amat indah. Dia mampu menyelami perasaan perempuan dengan amat baik, meski dia seorang laki-laki. Kesedihan Mariam saat mendapat perlakuan kejam dari suaminya, hancurnya perasaan Laila saat berpisah dengan Tariq, dapat digambarkan dengan begitu menyentuh hati. Dan penerjemahnya mampu membahasa-indonesiakannya dengan amat indah (lo boleh geer kok antie:P)
Seperti kata penerjemahnya, ending Atss emang amat indah dan manis. Meski ada yang bilang ceritanya sinetron sekali, tapi aku menyukai Atss. Kisah ini membuka wawasanku soal situasi Afghanistan selama dikuasai komunis Rusia, atau selama Taliban berkuasa. Bagaimana Rusia berusaha menghancurkan masyarakat religius Afghanistan dengan ideologi komunisnya, atau bagaimana fanatisme sempit beragama yang berusaha ditegakkan pemerintah Taliban. Hmmm membaca kekejaman Taliban tiba-tiba membuatku bersyukur hidup di negara (yang katanya) sekuler ini. Hihihi, amit-amit deh, ke mana-mana musti pake burqa. panas kali
Pokoknya, ATSS keren, baca deh, dijamin tidak rugi. yah, paling-paling sedikit berlinang air mata. 