Pengalaman pertama
Pada Selasa, 10 Januari 2012 Ito mendadak demam tinggi. Dua hari sebelumnya kedua matanya entah kenapa mengeluarkan banyak sekali kotoran. Padahal Ito tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Kasihan sekali dia, kotoran mata itu sangat menganggunya, dia kerap mengucek-ngucek matanya. Lalu karena penurun panas tidak banyak membantu, kami membawa Ito ke dokter, dan karena panasnya udah 39 derajat, dokter memberi penurun panas melalui dubur. Rupanya panas tingginya karena radang tenggorokan,
Keesokan harinya Ito tampak membaik. Tapi tetap perlu penurun panas hingga hari Kamis, yang membuatku bertanya-tanya, ada apa. Biasanya dia kalau sudah minum obat dari dokter huda, ga perlu minum penurun panas lagi. Kami menunggu sampe Sabtu lalu Minggu. Saya sudah tidak tahan, sedih sekali melihat Ito terbatuk-batuk, hidungnya meler, dan matanya rebes, serta menolak makan minum. Yang paling parah, dia tidak mau ditaruh, maunya digendong. Tangan dan punggung saya rasanya mati rasa. Kalau boleh nangis guling-guling, rasanya saya ingin melakukannya.
Hari Minggu itu juga kami membawanya ke UGD Hermina Depok. Yang membuat saya takjub, hari Minggu pun RS ramai sekali. Rupanya banyak bayi atau balita yang mengalami demam ga jelas dan diare + muntah. Hujan yang terus-menerus turun selama berhari-hari say arasa turut berkontribusi pada banyaknya bayi dan balita yang sakit. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, Ito diputuskan untuk dirawat. Kami lega, setidaknya kalau ada apa-apa dengan Ito, dia akan cepat ditangani.

Ito dan tangan robotnya
Dari seorang dokter saya mendapat penjelasan kalau Ito anaknya hipersensitif. Dia gampang sekali sakit oleh perubahan cuaca atau hal lain. Dia ada bakat alergi. Gampang kena flu, batuk, dan pilek. Ini menjawab pertanyaan yang sudah lama kupendam, kenapa Ito hampir tiap bulan sakit. Baru banyak makan, baru pinter ini, dia sakit. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya menderita. Kesedihan dan kelelahan membuat kondisi saya sendiri juga memburuk. Saya sempat mengalami demam tinggi dan pas cek darah tifus saya positif 1. Tapi saya harus kuat demi Ito. Jadi, berkat motivasi itu, saya juga cepet pulih.

Ito udah mulai bisa tersenyum digendong Ayah
Setelah dirawat beberapa hari, Rabu pun Ito boleh pulang. Kondisinya sudah mulai stabil. Pipinya kembali merah, keceriaannya sudah kembali. Dan setelah sembuh ini, dia sudah bisa disuruh mencium. Jadi kalau saya bilang, “Sayang/Cium Mommy, dong, Ito.” Dia kaan membuka mulut dan mendekatkan wajahnya ke pipi saya. Manis sekali. :-* Sehat-sehat terus ya, Nak.

Ito sama Mommy dan Ayah
Ito 7 bulan
Sepertinya waktu cepet banget berlalu, Ito sudah tujuh bulan saja bulan ini. Dia sering kali membuat kami takjub dengan perkembangannya yang begitu cepat. Sudah mulai “doyan” makan. Dulu kalau nyuapin, mesti mencongkel-congkel mulutnya yang mendadak tertutup rapat begitu sendok menghampiri. Sekarang kalau saya telat nyuapin, dia teriak-teriak pengen buru-buru. Haha
Ito sudah mulai duduk. Kadang tegak, tapi lalu doyong dan ambruk. Kocak banget liatnya. Dia mulai mengenali orang dengan lebih baik. Mata dan tampang memperhatikannya masih ada, apalagi kalau diajak ke tempat baru dengan pemandangan baru. Sangat terlihat kalau matanya tengan mempelajari dan mengamati sesuatu. Ah, bangga sekali mommy sama kamu, Nak. Sehat-sehat terus ya. Kami sayang padamu.

Ito genap 7 bulan, 6 Januari 2012
Catatan 2011
Semester pertama tahun ini saya tengah hamil untuk pertama kalinya. Saya sangat menikmati kehamilan yang sudah ditunggu-tunggu ini. Seperti calon-calon ibu lainnya, saya banyak menggali pengetahuan dari mana-mana. Dari browsing di internet, membaca majalah seputar kehamilan, bertanya pada yang sudah pengalaman hamil, mengikuti forum ibu-ibu di media online, hingga mengikuti seminar tentang hypnobirthing. Saya ingin memiliki bekal pengetahuan yang cukup saat menjadi ibu nanti. Saya juga mulai mengikuti senam hamil.
Mendekati pertengahan tahun, kehamilan saya sudah semakin besar. Saya mengalami hal-hal yang sering dialami ibu-ibu hamil lainnya. Saya kerap kram kaki di malam hari. Jangan tanya sakitnya. Sakit banget. Saya kegerahan terus-terusan. Saya mulai susah tidur sekaligus susah memilih posisi tidur. Perut suka meregang ke sana kemari saat bayi bergerak-gerak. Sakit, tapi saya sekarang suka kangen gerakan-gerakan bayi dalam perut itu, hihi. Dan yang paling menyenangkan, saya dan Daus mulai belanja-belanja keperluan bayi, yang ternyata menghabiskan dana lumayan banyak. Ya memang harus dibeli mau gimana lagi, ya kan?

sebelum masuk ruang operasi bersama Daus dan Mbak Yuni.
Lalu hari persalinan saya datang. Saya divonis untuk persalinan SC karena bayi saya melintang. Saya dijadwalkan untuk menjalani SC pada 6 Juni 2011. Terpaksa pindah dari DSOG awal demi bisa menggunakan Askes. Sempat sedih dan khawatir dengan keputusan ini, tapi mengingat rupiah yang bisa dihemat, berusaha kuat
. Ito lahir pada pukul 9.25 di RS Fatmawati dengan pertolongan Dr. Fara Vitantri, Sp.OG. Perasaan saya tidak terlukiskan bahagianya. Dia begitu menakjubkan di mata saya. Pas dia didekatkan ke dada saya, saya melihat jari-jarinya panjang. Oh, anak ini bakalan tinggi. Oh iya, belajar jalan setelah SC itu MENYAKITKAN dan TRAUMATIK. Dua minggu setelah Ito lahir, Daus harus berangkat ke Sydney. Dan drama dalam kehidupan saya dimulai. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya pindah ke rumah kakak. Ternyata ASI saya ga keluar banyak. BB Ito sempat turun 400 gram yang membuat saya realistis dan dengan terpaksa memberinya susu formula.

beberapa saat setelah lahir
Semester kedua tahun ini saya resmi menjadi ibu baru yang harus mengasuh bayi tanpa suami. Di dua bulan kehidupannya, Ito masih belum bener jam tidurnya. Siang dia tidur lamaaaa banget, sebaliknya malam dia lebih banyak melek. Ini lumayan menguras energi dan membuat rasa mellow saya semakin bertambah-tambah. Saya sungguh berterima kasih pada kakak saya yang menjalankan fungsi ibu sekaligus fungsi suami buat saya dengan segala keterbatasannya. Tetapi memang, kehadiran dan support dari suami itu tak bisa tergantikan. Saya mengalami postpartum depression yang lumayan parah. Tiap malam saat sendirian menjaga Ito yang melek, saya suka menangis. Merasa ingin melarikan diri. Merasa tidak sanggup menanggung semuanya seorang diri. Mungkin karena kondisi psikis dan fisik yang tidak terlalu stabil, saya mengalami mastitis. Rasanya penderitaan saya komplet sekali. Terbangun tengah malam dan mendapati payudara kanan saya berdarah-darah sungguh horor. Penderitaan saya tidak hanya sampai di situ. Pada suatu malam saya mengalami low back pain. Bagian punggung bawah hingga ke perut sakit luar biasa. Lalu saya tidak bisa menggendong Ito lama-lama. Dan rasanya semakin nelangsa.
September tiba dan saya mulai masuk kerja lagi. Depresi saya mulai sembuh. Saya menikmati sekali, rasanya saya menemukan dunia saya kembali. Rasanya saya menemukan zona nyaman saya. Pergi pagi pulang menjelang malam. Pas saya pulang, Ito sudah mulai mengantuk, sehingga saya tinggal menyusuinya dan dia tertidur. Saat di kantor, saya jarang mencemaskan Ito karena yakin dia aman dan bahagia bersama budenya. Hari-hari cepat berlalu, dan saya mulai bisa berdamai dengan peran motherhood ini. Lebih bisa menerima kenyataan, mencoba lebih banyak bersyukur dengan apa pun keadaan saya.
Di usianya yang keempat bulan, Ito mengalami batuk pileknya yang pertama. Yang mengkhawatirkan, dia demam. 38 derajat. Dengan terpaksa saya membawanya ke DSA dan untuk pertama kali dalam hdiupnya Ito minum obat dan diterapi uap. Tiap kali dia terbatuk-batuk, hati saya seperti teriris-iris. Saat Ito sakit begini, rasa mellow saya yang tadinya mulai menghilang, mendadak muncul lagi. Pasti saya akan lebih tenang jika Daus ada bersama kami. Bulan kelima, Ito kena batpil lagi. Untuk pertama kalinya dia rewel dan tidak bisa ditaruh. Maunya digendong, itu pun masih sambil menangis. Saya membawanya ke DSA lagi dan dikasih antialergi yang membuatnya lebih tenang. Saya mulai sering bolos ngantor. Untungnya, tipe pekerjaan saya memungkinkan saya untuk bekerja di rumah, sehingga saya kerap pulang membawa kerjaan supaya bisa saya kerjakan di rumah sembari mengasuh Ito.
Bulan keenam, Ito mulai makan. Sedihnya, dia kena batpil lagi. Saya mulai bisa relaks menghadapi Ito sakit. Tapi yang lebih parah, saya sakit juga. Dalam bulan Desember saya sudah tiga kali kena flu. Rasanya tidak pernah sama sekali sehat. Batuk, pilek, sakit tenggorokan, begitu saja terus-menerus. Saya kepikiran mau mengajukan kerja di rumah. Apa saja status saya dan berapa saja gajinya yang penting saya bisa lebih sering di rumah. Mungkin, dengan sering ditunggui ibunya, Ito lebih jarang sakit, dan saya sendiri juga lebih bagus staminanya. Dan saya harus lebih banyak bersyukur karena pengajuan saya dikabulkan oleh direksi kantor saya. Alhamdulillah. Meski cuma selama enam bulan. Tak apa, itu udah lebih dari cukup buat saya. Kebahagiaan lain bagi saya dan Ito adalah akhir Desember ini Daus pulang ke Indonesia selama dua bulan. YAY! Akhirnya, kami bisa bercengkrama bersama. Menyenangkan rasanya bisa berkumpul bertiga. Alhamdulillah.
Okay, selamat tinggal 2011, selamat datang 2012
. Semoga tahun 2012 ini kami lebih sehat, jarang sakit, rezeki melimpah, dan bahagia selalu. Amin.
Anugerah Terindah
Bisa dibilang saya dan Daus menikah muda. Agak nekat juga sih karena Daus masih menyelesaikan S2-nya, tapi kami percaya Allah sudah menyiapkan rezeki buat kami. Tahun pertama kami menunda memiliki anak, karena kami belum merasa siap. Meski percaya rezeki sudah diatur, tetap saja, keputusan memiliki anak harus disertai kesiapan mental dan material. Setahun pertama berjalan begitu cepat, dan menginjak tahun kedua, kami sepakat untuk tidak menunda lagi.
Namun hingga memasuki tahun keempat, kehamilan yang kami harapkan tak kunjung tiba. Kami sendiri seolah tak sadar empat tahun sudah berlalu lantaran kesibukan masing-masing. Kesadaran menghampiri kami hanya saat ketemuan atau kumpul-kumpul dengan saudara dan juga teman. Mereka yang belakangan menikah sudah lebih dahulu punya bayi atau yang usia pernikahannya sama dengan kami anaknya sudah batita. Antara saya dan Daus jarang sekali ada pembicaraan soal hamil, bayi, atau yang mengenai itu, sekali lagi kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Kami menganggap akan datang saatnya kami memiliki anak juga.
Pertanyaan soal anak yang kadang bikin saya mati gaya bukannya tidak pernah saya dengar. Dan bukannya tidak sakit hati, tapi saya mulai jago menabahkan hati. Kebetulan kakak saya juga mengalami pengalaman serupa sehingga dia sering kali pasang badan jika ada keluarga atau saudara yang “menyerang” saya dengan pertanyaan itu. Di suatu acara keluarga, seseorang pernah bertanya atau berbasa basi atau apalah, begini: “Ida kok kalah sama ini, dia yang baru menikah udah langsung hamil, lho.” Kakak saya dengan lempeng menyamber, “Emangnya lomba, ada yang kalah dan yang menang.” Yah, begitulah, basa basi di masyarakat kita memang sering kali nabrak area pribadi.
Saya bukannya tidak sedih menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu. Saya toh perempuan biasa, yang at the lowest point sering kali menangis sekaligus bertanya-tanya, kapan giliran saya menjadi ibu? apakah saya akan diberi kesempatan luar biasa itu? Alhamdulillah, saya dikelilingi teman-teman yang sangat positif, suportif, dan kadang-kadang malah membuat saya melupakan soal anak ini. Lalu saya mulai terpanggil untuk melakukan usaha lebih. Jadi, setelah berunding, saya dan Daus memutuskan mengikuti terapi urut. Seorang teman merekomendasikan tempat terapi yang “berhasil” menjadi perantara kehamilannya. Kami beberapa kali mengikuti terapi, tapi sepertinya kami belum berjodoh.
Kemudian, saya mulai memikirkan untuk menempuh upaya medis. Atas rekomendasi kakak, kami mendatangi Klinik Yasmin di RSCM Kencana, yang khusus menangani kasus infertilitas. Atas alasan pribadi saya lebih nyaman dengan dokter perempuan, tentu dengan konsekuensi mengantre lebih lama. Lalu nasib mempertemukan kami dengan Dr. Marly Susanti, Sp. OG. Saya langsung menyukai gaya ceplas-ceplosnya, yang menjelaskan dengan apa adanya dan kadang dibumbui humor-humor khas dokter. Terus terang, saya sangat menikmati kunjungan-kunjungan saya ke klinik infertilitas ini. Selain merasa memiliki banyak teman senasib—hei, ternyata ada banyak sekali pasangan yang menunggu lama untuk memeluk bayinya—saya juga terhibur dengan jawaban-jawaban Dr Santi atas curhat-curhat saya. Yang paling terpatri di ingatan saya adalah ketika saya bilang bahwa saya tidak nyaman kalau ditanya orang-orang atau siapa pun soal hamil. Dia mengatakan hal yang tadinya tidak pernah saya pikirkan, bahwa sudah menemukan dan memiliki pasangan yang baik adalah hal yang patut disyukuri juga. Menikah kan tidak melulu soal anak. #makjleb.
Sejak saat itu, kalau saya merasa sedih atau lagi-lagi menghadapi pertanyaan soal kehamilan, saya merasa lebih kuat dengan mengingat kata-kata Dr Santi itu. Kami melewati serangkaian tes organ reproduksi yang hasilnya Alhamdulillah kami baik-baik saja. Meski begitu, kami setuju untuk menjalani dua kali terapi hormon. Ketika belum berhasil juga, Dr Santi merekomendasi kami untuk mencoba inseminasi. Namun, saya dan Daus sepakat untuk mencoba cara alami dulu. Lagi pula terapi yang selama ini kami jalankan ini lumayan menguras kantong.
Tidak terasa setengah tahun berlalu dan saya tak kunjung hamil. Kami sepakat untuk memulai ke dokter lagi sehabis lebaran. Ramadhan 2010 ibu mertua saya melaksanakan umroh selama sebulan penuh, tentu saja kami tak lupa untuk minta didoakan di sana. Dan sepulang dari sana ibu membawakan semacam bubuk kurma yang sudah didoakan untuk diminum oleh Daus. Bubuk itu sangat tidak enak dan bahkan bau sampai-sampai Daus memakai kapsul kosong untuk meminumnya dengan “selamat”.
Pada Oktober 2010 saya pergi ke Salatiga untuk menghadiri pernikahan salah seorang teman dekat saya tanpa Daus. Saya dan teman-teman sempat mengalami banyak hal di sana, dari berkali-kali ban mobil kempes sampai berjalan-jalan cukup lama di sekitar Malioboro. Sekembalinya dari sana saya beraktivitas seperti biasa. Saya memang telat haid, tapi saya pikir itu karena kelelahan. Sampai suatu hari saya mengalami sakit perut bawah yang tak tertahankan dan memutuskan untuk ke dokter kandungan yang praktik dekat rumah. Saya sempat di USG dan diperiksa dalam (!) tapi tidak ada apa-apa. Eh, dokter malah memvonis saya terkena infeksi apa gitu, dan saya diresepi beberapa obat termasuk antibiotik.
Dan saya tak kunjung haid. Kakak saya bilang supaya saya coba testpack. Saya menunda-nundanya karena sama sekali tak terpikir kalau saya hamil. Berkali-kali kakak saya rempong kirim sms menanyakan saya udah tes apa belum. Karena capek ditanya terus, akhirnya saya putuskan untuk tes juga. Tanpa sepengetahuan Daus sebelum subuh saya tes di kamar mandi. Hati saya sudah dag dig dug tak keruan. Menunggu garis merah muncul rasanya lama sekali. Kemudian, garis pertama muncul, biasanya tes saya selalu berhenti di situ. Namun kali ini garis merah kedua perlahan-lahan mengemuka. Saya tercenung beberapa saat. Tak mampu berkata-kata, mengucap Alhamdulillah dalam hati, dan segera mengambil air wudu. Lalu saya mengajak Daus salat berjamaah. Saya sengaja menunda memberitahunya hingga kami selesai salat.
Selesai salat saya mengajaknya sujud syukur. Pas ditanya ada apa. Saya bilang bahwa saya positif hamil. Kebahagiaan dan rasa haru melingkupi kami. Alhamdulillah, setelah lima tahun menunggu. Doa ibu memang tak perlu dipertanyakan kemujarabannya, mungkin ditambah bubuk tak enak itu, sebelum saya kembali menemui Dokter Santi untuk memulai program inseminasi, saya positif hamil. Alhamdulillah. Sungguh, semuanya memang indah pada saat-Nya.
The day is come
YAY! Hari yang dinanti tiba juga. Daus pulaaang. Akhirnya setelah enam bulan kami insya Allah akan berkumpul lagi, ya meski cuma untuk kurang dari dua bulan.

Ibu dan anak yang girang karena Ayah akan segera pulang
DPT 3
Setelah mundur dua minggu, akhirnya Kamis, 15 Desember 2011 lalu, Ito imunisasi DPT 3. Seperti yang sebelumnya, saya memilih pakai vaksin Pediacell saja. Sempet ada drama pas menuju RS. Saya pulang cepat dari kantor, eh ternyata di Kemang hujan deres banget. Saya hujan-hujanan naik ojek ke stasiun. Ah, perjuangan banget deh pokoknya. Saya janjian sama Bunda yang bawa Ito dari rumah di stasiun Citayam. Untungnya di Citayam belum hujan, meski udah mendung yang bikin panik, hehe.
Sampai Hermina, Ito langsung ditimbang. BBnya 7,5 kg, naik 400 gram dari bulan lalu. Panjangnya 66 cm. Pas disuntik, Ito sempat nangis sebentar, tapi langsung terdiam begitu dokternya siul-siul.

- Ito 6 bulan 9 hari, 7,5 kg
Ito mulai makan
Awal Desember Ito kena batpil lagi. Kasihan sekali dia, tampak sangat tersiksa tiap kali batuk menyerang. Tapi ya mau gimana lagi, serumah sedang terkena flu semua, bergantian. Mau gak mau Ito terkena efek ping pong dari masing-masing anggota keluarga. Baru mau sembuh, jadi parah lagi karena tertular dari yang lain. Setelah dua minggu lebih, dia sudah mulai mendingan. Akibat batpil ini, jadwal imunisasi DPT 3-nya terpaksa mundur. Huhuhu.
Pada 6 Desember lalu, Ito genap bulan, yang artinya sudah saatnya dikasih makanan pendamping. Tapi aku nyolong start dari sejak tgl 3 Desember. Soalnya aku lihat, dia mulai seneng minum air putih pakai sendok, dan mulai merhatiin dengan tampang pengen tiap kali melihat kami makan. Jadi kupikir dia memang siap dikenalin makanan lain selain susu. Untuk pertamanya, aku bikinin bubur gasol beras merah wangi encer. Tampangnya aneh banget pas dikasih makan. Seperti mau nolak, tapi mau gimana lagi, hahaha. Dia masih belum pintar nelen. Gapapa, Nak, namanya juga baru pertama kali. Siangnya aku kasih jus jeruk baby. Masih asing juga sama rasanya. Intinya hari pertama masih acak adut deh
Tapi hari kedua dan seterusnya, dia mulai suka dan menikmati makan. Dia paling suka bubur gasol ubi. Mungkin karena lebih lembut dan ada rasa manisnya. Dia juga mulai kuperkenalkan dengan pepaya, lalu alpukat. Syukurlah dia suka. Oh ya, tadinya aku khawatir makanan pendamping akan bikin Ito sembelit, mengingat selama ini saja dia pupnya 3-4 hari sekali. Tapi belakangan, dia malah lebih sering pup 2 hari sekali, bahkan pernah tiap hari. Ternyata makanan pendamping tidak membuatnya sembelit.


