Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia

Penulis: Trinity

Penyunting: Imam Risdiyanto

Penerbit: C|Publising (PT Bentang Pustaka)

Buku ini salah satu buntelan dalam acara Kubugil, 17 Mei lalu dan merupakan kumpulan tulisan dari blog dengan nama yang sama. Membaca buku ini membuatku terkikik dan senyam-senyum sendiri. Menurutku, aku membaca buku ini pada saat yang sangat tepat. Buku ini entah kenapa menyusupkan semangat nasionalisme dalam diriku. Yah, secara Mei ini kita semua memperingati 100 tahun Kebangkitan Indonesia, kadar nasionalisme dalam diriku sedikit menebal karena keduanya:D.

The Naked Traveller banjir endorsement, dari Bondan Winarno, Edna Pattisina (wartawan Kompas), Wien Muldian (bosnya milis pasarbuku), sampai beberapa media cetak. Yayaya, Trinity memang menulisnya dengan lancar dan asyik. Mungkin karena awalnya dari sebuah blog kali ya, jadi enak banget dibacanya. Serasa membaca curhatan sendiri.

Lewat The Naked Traveller aku dibawa melanglang buana ke tempat-tempat yang dikunjungi Trinity. Aku dibuat takjub dengan banyaknya pelosok dunia yang telah dijelajahinya. Tidak hanya negara-negara besar yang familiar di telinga, tetapi juga negara-negara yang bahkan aku baru pertama kali mendengarnya, semisal Andorra. Dia juga menceritakan suka duka menjadi backpacker, bagaimana menyiasati barang bawaan, bagaimana memilih penginapan, dan mengatur pola makan.

Bagian yang membuatku terpana juga ada, misalnya aku baru tahu kalau ternyata banyak banget pulau-pulau di Indonesia yang dibeli/dikelola oleh warga asing, dijadikan tempat pariawisata juga, tetapi tempat itu justru tidak beken di Indonesia sendiri. Dan mayoritas pengunjungnya juga bule-bule. Waaa, kesian Indonesia. Aku juga dibuat tersenyum geli saat membaca petualangan Trinity ke Puerto Rico. Di sana sang tour guide dengan bangganya menunjukkan sesuatu, “This is a banana tree.” Dan teman-teman seperjalanan Trinity sibuk berfoto di depan pohon pisang itu.:D. Atau pas dia menjelajahi pulau-pulau di Australia, dia ditunjuki sebuah tempat yang banyak banget belutnya. Yang lain sibuk ber oh oh, sementara dia ya ampyuuun, di setiap kali dan sawah di Indonesia juga banyak kali;p.

Trinity juga menyebut (tepatnya berpendapat) kalau cowok-cowok Itali itu cakep-cakep, dari businessman sampi kuli bangunan cakep semuah!:p Trus Negara yang cowok-cowoknya gada yang cakep adalaaaah Brunei. Kata dia cowok-cowk di sana dandanannya sama, celana bahan yg disetrika sampe njlirit dan kemeja lengan panjang tanpa dilinting. Outfit itu buat jalan-jalan di mal! :D

Yak, silakan baca buku ini. Lumayan bisa keliling dunia tanpa bikin visa dan beli tiket pesawat yang mahaaaal :D

Pengarang: Lois Lowry
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penyunting: Yuliani Liputo
Desain Sampul: Andreas Kusumahadi
Penerbit: MLC LUMOS Books

Anastasia Krupnik, gadis berusia 10 tahun yang gemar menuliskan kata-kata baru dalam buku catatannya dan membuat daftar hal-hal yang disukai dan dibencinya. Yah, gak anehlah soalnya ayahnya seorang dosen bahasa inggris yang sudah mencekokinya dengan buku sejak berusia 2 tahun. Anastasia juga sangat suka menulis puisi. Tetapi, saat mendapat tugas untuk membuat puisi, Anastasia justru mendapat nilai F. Tentu dia sangat sebel dan langsung menuliskan nama Ibu Wetvessel, dalam daftar hal-hal yang dibencinya.

Pas baca buku ini aku terkikik-kikik karena Anastasia sangat polos dan lucu. Dia mengungkapkan semua hal dengan jujur kepada orang tuanya. Bahakan meskipun itu sesuatu yang kalau kita pikir bisa membuat ortunya marah. Tapi ternyata ortunya tidak marah, kok. :D Semisal suatu saat Anastasia pengen banget jadi orang Katolik, karena dia sangat ingin menambahkan suatu nama dalam namanya. Dia selalu menganggap nama Anastasia itu aneh. Nah, temannya si Jennifer MacCauley adalah seorang Katolik, dan dia mengajaknya ke gereja di akhir pekan. Jennifer berpikir Anastasia pasti akan mendapat dispensasi di gereja soal namanya. Dan Anastasia sudah memilih sebuah nama untuk dirinya sendiri berikut menyiapkan sebuah tas besar untuk menampung dispensasi! HAHAHA

Suatu saat Anastasia mengumumkan kalau dia jatuh cinta. Dan dia jadi rajin mencuri baca majalah Cosmopolitan yang dijual di tokok Pak Bleden. Meski Pak Bleden selalu menghardiknya dengan, “Bayar atau tutup majalah itu, Non.” Karena jatuh cita pula, Anastasia jadi rajin mengeramas rambutnya. Dia pikir, dia bisa mencuri perhatian Washburn Cummings, cowok yang membuatnya jatuh cinta, jika rambutnya terlihat bagus. Tapi si Washburn justru mengatai apakah Anastasia abis kesetrum listrik sampai-sampai rambutnya berdiri. Sejak saat itu, Washburn Cummings masuk ke dalam hal-hal yang dibencinya.

Anastasia memiliki Nenek yang sudah sangat tua dan sudah pikun. Neneknya tinggal dip anti wredha, tapi tiap natal dan thanksgiving selalu diajak berkumpul di rumah Anastasia. Karena sudah pikun, neneknya tidka tahu kalau Anastasia adalah cucunya, dan selalau memanggilnya, “Hai, gadis kecil.” Anastasi membenci neneknya, bukan, bukan neneknya, tapi dia benci kenapa neneknya begitu tua. Itu membuatnya sangat sedih. Tapi ada hal yang membuatnya sangat terharu saat neneknya masih bisa mengenali sebuah piring bergambar bunga yang sudah retak di sana-sini. Dia mengelus piring itu dan berbisik: “Bunga forget-me-not.”

Anastasi terlambat mengetahui kalau dia kan segera memiliki adik. Dia sebal sekali, dan langsung memasukkan bayi dalam daftar hal-hal yang dibencinya. Ayah ibunya menenangkan Anastasia dengan menyerahkan soal nama bayi itu kepadanya. Suatu hari keluarga Anastasia diberi kabar kalau neneknya meninggal. Anastasia sangat sedih, dia terkenang-kenang tangan neneknya yg amat lembut mengelus-elus rambutnya. Saat dia dan ayahnya mengepak barang-barang sang nenek di panti wredha, mereka dikabari kalau ibu Anastasia melahirkan.

Sungguh hari yang komplet buat Anastasia. Dia sudah menyiapkan nama buat adiknya, yaitu Sam. Neneknya selalu menyebut-nyebut nama Sam dengan penuh kasih sayang. Ibunya memberi tahu kalau Sam, adalah kakek Anastasia. Meski nenek pikun, tapi dia selalu ingat akan Sam; anak-anaknya, terutama anak bungsunya, Myron, ayah Anastasia; bahkan piring tua bergambar bunga forget me not. Ini merupakan catatan tersendiri buat Anastasia. Dia berpikir neneknya punya mata batin, yang bisa juga berarti kenangan. Itu yang membuatnya tetap bahagia dan tidak kesepian.

Di akhir cerita, dalam daftar hal-hal yang dibenci Anastasia Cuma tertinggal satu hal: hati. Dia sama sekali tidak suka hati yang dimasak apa pun. Hihihihi. Dia sudah menyukai bayi yang dulu dibencinya, teman-temannya, dan bahkan Ibu Westvessel :P

Penerjemah: Ibnu Setiawan
Penyunting: Wendratama
Perancang Sampul: Andreas Kusumahadi
Cetakan I, Oktober 2007
Penerbit Bentang

Aku menggelengkan kepala. “Tidak. tapi kenal banyak orang China di New York. Bagi mereka kematian adalah perayaan atas hidup almarhum.”
Josephine terlihat ragu. “Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merayakan kematian,” akhirnya dia berkata.
“Bukan begitu, ” kataku kepadanya. “Hidup-lah yang kaurayakan. Semuanya. Bahkan akhir hidup itu sendiri.”

Vianne Rocher bersama putrinya, Anouk, tiba di Lansquenet-sous-Tannes saat ada karnaval menyambut hari rabu Abu: hari yang mengawali masa Pra-paskah umat Kristiani, pastor membuattanda salib dengan abu pada dahi umat. Pra-Paskah adalah sebulan masa puasa dan persiapan menyambut Paskah. Lansquenet-sous-Tannes adalah sebuah desa berpenduduk tak lebih dari dua ratus jiwa yang terletak di antara Toulouse dan Bordeaux. Penduduknya tidak terlalu ramah sebenarnya, tapi Vianne merasa Lansquenet-sous-Tannes cukup bagus untuk menetap. Tambahan lagi, Anouk menyukai tempat ini dan meminta untuk tinggal.

Vianne memutuskan untuk tinggal di desa itu dan membeli sebuah rumah bekas toko roti yang terletak di depan gereja desa. Semua penduduk mengira Vianne juga akan membuka toko roti, tetapi mereka keliru, karena Vianne ternyata mengubah tempat itu menjadi toko cokelat, yang menurut mereka tidak terlalu pas, karena Lansquenet-sous-Tannes hanyalah sebuah desa kecil. Membuka toko cokelat adalah impian Vianne sejak dulu. Meski sering mendapat cibiran ibunya, tetapi dia selalu mengumpulkan resep-resep masakan dan terutama cokelat di sepanjang pengembaraan mereka.

Vianne kecil hidup mengembara bersama ibunya, berpindah-pindah dari Nice, Paris, New York, Naples, Milan, Roma, Unter den Linden, San Pedro, Lisbon, dan kota-kota lainnya. Ibunya tak pernah mengajaknya tinggal terlalu lama di suatu tempat, dia selalu berpindah. Yang pada akhirnya, Vianne memahami kalau ibunya hendak melarikan diri dari sesuatu. Ibunya mengidap kanker, dan dia berusaha melarikan diri dari kematian dan musuh bebuyutannya, si Pria Hitam.
Toko cokelatnya bernama Le Celeste Praline. Menjual berbagai macam variasi cokelat yang teramat menggiurkan. Tadinya Le Celeste Praline sepi pengunjung. Tapi pada akhirnya beberapa penduduk desa menjadi langganan tetap toko cokelat Vianne. Agar para pengunjungnya bisa duduk dan menikmati secangkir cokelat panasnya, Vianne menaruh beberapa kursi tinggi sehingga Le Celeste Praline mirip sebuah café. Le Celeste Praline yang terletak di depan gereja membuat pastor setempat, Reynaud, membencinya. Karena sehabis menghadiri misa, para jemaatnya selalu membeli cokelat bukannya berpuasa mengingat Februari adalah bulan menjelang paskah.

Vianne Rocher dan Anouk juga dianggap telah memberi pengaruh buruk bagi penduduk desa oleh sang pastor karena dia dan anaknya tidak pergi ke gereja. Beberapa jemaatnya juga mulai berani menentang kata-katanya, bahkan Josephine Muscat berani meninggalkan suaminya Paul-Marie Muscat dan memilih tinggal bersama Vianne. Tapi Vianne mendapat dukungan dari Armande Voizin, seorang nenek tua yang sangat menentang gereja dan terutama Pastor Reynaud. Armande dianggap gila dan dikucilkan, tinggal di pinggir sungai Tannes. Dia menentang keras anjuran anaknya, Caroline Clairmont untuk tinggal di panti meski dia terkena diabetes parah. Dia juga menolak diet yang dibuat dokter, memutuskan untuk menikmati sisa hidupnya dengan makan makanan favoritnya.
Kebencian sang pastor pada Vianne didukung oleh Caroline Clairmont, yang sebal karena ibunya, Armande, dan anaknya, Luc berteman dengan Vianne. Mereka merencanakan akan memboikot festival cokelat yang akan diadakan oleh Vianne tepat di hari paskah. Mereka menyebarkan selebaran yang isinya menjelek-jelekkan Vianne dan toko cokelatnya. Berhasilkah rencana jahat mereka?

Novel ini beralur lambat dengan dua pencerita, Vianne dan Reynaud. Mereka menyimpan kebencian dan ketakutan satu sama lain. Ditulis dengan bab berjudul tanggal dan bulan bak diari, dari 11 Februari sampai 31 Maret. Oh ya, deskripsi variasi cokelat, dari chocolat chaud, espresso, chococcino, mocha, boudin, trouffle cokelat, bikin ngiler bangeeeet. Apalagi sepertinya si Vianne dikisahkan sangat jago bikin macam-macam cokelat berikut menghias dan menyajikannya, hmmmmm, tambah ngiler. Endingnya juga melegakan sekaligus lucu. Oh, ya Chocolat juga udah ada filmnya, katany siy filmnya juga bagus, harus nonton kayaknya.

Pengarang: Khaled Hosseini

Penerjemah: Berliani Nugrahani
Penerbit: Qanita-Mizan

ATSS adalah novel kedua dari Khaled Hosseini. Aku belum baca novel pertamanya, The Kite Runner karena setelah baca review dari beberapa orang yang membacanya, TKR supersedih gitu. Dan aku sebenarnya gak suka novel sedih. Perasaanku akan gloomy selama beberapa waktu sesudah membacanya. Dan ATSS juga sukses membuatku berlinang air mata, tersedu-sedu saat membaca beberapa bagian yang paling menyayat hati, dan benar saja, perasaanku sedih melulu sampai sekarang. Hihihihihi ….

Mariam
Atss bercerita tentang Mariam, si anak haram dari Nana dan Jalil Khan. Sejak lahir Mariam tinggal di kolba bersama Nana. Tiap minggu Jalil mengunjunginya. Dan selama seminggu, Mariam menanti-nanti kedatangan Jalil untuk mendengar cerita-cerita tentang kejadian yang tak pernah dilihatnya selama hidupnya. Mariam merasa Jalil amat menyayanginya, jadi segala ucapan Ibunya yang menjelek-jelekkan Jalil tak dihiraukannya. Melihat Mariam yang tampak begitu memuja Jalil, Nana mengancam kalau sampai Mariam meninggalkannya, maka ia akan bunuh diri.

Rasa penasaran Mariam akan kehidupan kota yang selama ini hanya didengarnya dari cerita Jalil membuatnya tak kuasa menahan keinginan untuk mengunjungi Jalil di rumahnya. Dengan nekat, Mariam menuju rumah Jalil sendirian. Dia begitu ingin makan es krim, nonton di bioskop kepunyaan Jalil, dan bertemu dengan saudara-saudara tirinya di rumah Jalil. Dan kenyataan membukakan mata Mariam bahwa selama ini apa yang dikatakan ibunya benar. Jalil tak membukakan pintu rumahnya bagi Mariam. Dia pulang dengan hati amat terluka dan mendapati hatinya semakin hancur ketika menyaksikan ibunya mati gantung diri. Nana melaksanakan ancamannya.

Sepeninggal ibunya, Mariam tinggal bersama Jalil, dan oleh ibu tirinya dia dipaksa kawin dengan Rasheed, seorang duda yang umurnya hampir dua kali lipat dari usianya. Menikah dengan Rasheed membuat Mariam harus meninggalkan Herat dan tinggal di Kabul. Pada awalnya, Rasheed bersikap baik pada Mariam, tapi setelah Mariam beberapa kali gagal memberinya keturunan, Rasheed memperlakukannya bak hewan. Dia gemar berkata-kata kasar, menyiksa, dan bahkan memukuli Mariam. Sekadar contoh perlakuan untuk menggambarkan kejahatan Rasheed: sepulangnya dari menjual sepatu (Rasheed seorang tukang sepatu), Mariam selalu menyediakan makanan. Rasheed marah karena menurutnya nasi masakan Mariam sangat keras. Dengan sadis, dia menjejalkan batu dan pasir ke mulut Mariam dan menyuruhnya mengunyahnya. Katanya sekeras itulah nasi masakan Mariam. (Pas baca ini aku sedih banget dan rasanya pengen membacok Rasheed. Huh!)

Laila
Di Kabul, Rasheed dan Mariam bertetangga dengan sebuah keluarga Hakim, yang mempunyai tiga orang anak, di antaranya adalah Laila. Ia lahir saat Mariam sudah tinggal bersama Rasheed. Laila memiliki teman sepermainan yang bernama Tariq. Mereka berdua tak terpisahkan sejak kecil. Tariq yang berkaki buntung, akibat terkena ranjau, sering menggunakan kaki palsunya untuk mengusir anak-anak yang menggoda Laila.

Saat sama-sama tumbuh dewasa, mereka saling jatuh cinta. Pada saat itu, Kabul dalam keadaan yang sangat tidak aman. Para pejuang Mujahidin yang selama ini berjuang untuk membebaskan Afghanistan dari kekuasaan komunis Rusia mulai berhasil mengusir tentara Rusia dari Kabul. Tapi justru terjadi konflik antarsesama pejuang muslim itu sehingga terjadi hujan bom dan rudal di dalam kota Kabul. Tentu saja yang jadi korban adalah penduduk sipil. Tariq dan keluarganya memutuskan untuk mengungsi, sementara keluarga Laila tetap bertahan. perpisahan yang tak terelakkan antara Tariq dan Laila teramat menyedihkan.

Sepeninggal Tariq, Laila berusaha bertahan demi ayahnya. Sampai suatu saat, ayahnya berhasil meyakinkan ibu Laila untuk mengungsi meninggalkan kabul. Saat keluarganya sedang mengepak barang-barang, sebuah bom meledak dan menewaskan ayah dan ibu laila. Laila selamat dan dirawat oleh Mariam dan Rasheed. Singkat cerita, akhirnya, Laila menjadi madu Mariam. Hubungan mereka awalnya tidak baik, namun kemudian, Mariam dan Laila saling menyayangi dan bersatu dalam menghadapi kekejaman Rasheed.

Tariq ternyata masih hidup. dia tiba-tiba muncul dan membuat Laila amat berbunga-bunga sekaligus teramat sedih. Kedatangan Tariq membuat Rasheed amat cemburu hingga dia memukuli Laila. Mariam yang berusaha menyelamatkan Laila, memutuskan untuk membunuh Rasheed. Mariam menyuruh Laila segera meninggalkan Kabul bersama Tariq dan anak-anaknya. Dia mengorbankan dirinya dengan menyerahkan diri ke polisi hingga akhirnya harus dihukum mati. Akhirnya, Laila dan Tariq dapat bersatu kembali. Mereka segera menikah setelah tiba di Pakistan. Kebahagian bisa berkumpul kembali dengan Tariq serasa mimpi bagi Laila. Penderitaan dan kesedihannya selama ini serasa tak berujung. Namun, kini dia juga masih menyimpan kesedihan untuk Mariam.

Setelah Kabul dirasa cukup aman, Laila mengajak Tariq untuk kembali ke kampung halaman mereka. Laila terngiang-ngiang puisi mengenai Kabul yang amat disukai ayahnya. Puisi karya Saib-e-Tabrizi yang ditulis pada abad ketujuh belas:
“Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atapnya,
Ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dindingnya.”
(duuuuh, aku masih merinding bacanya:D)

Sebelumnya, Laila memutuskan untuk mampir ke Herat mengunjungi kolbanya Mariam. Ini adalah bagian yang amat mengharu biru. Kolba Mariam masih berdiri, Jalil telah lama meninggal dan meninggalkan surat wasiat untuk Mariam. Dalam suratnya itu, Jalil mengungkapkan permintaan maafnya karena perlakuannya pada Mariam. Suratnya begitu dalam menceritakan betapa ia amat menyesal telah menyia-nyiakan Mariam. Beserta surat itu juga terdapat keping film yang setelah diputar, ternyata adalah film disney pinokio yang dulu sering diceritakan Rasheed pada Mariam saat ia mengunjunginya di kolba. dalam surat Jalil juga terdapat uang warisan buat Mariam. Sepulang dari Herat, laila beserta keluarganya kembali ke kabul dan berusaha berkontribusi untuk kemajuan negerinya. Laila ingin mewujudkan impian ayahnya

Khaled Hosseini menceritakan dengan amat indah. Dia mampu menyelami perasaan perempuan dengan amat baik, meski dia seorang laki-laki. Kesedihan Mariam saat mendapat perlakuan kejam dari suaminya, hancurnya perasaan Laila saat berpisah dengan Tariq, dapat digambarkan dengan begitu menyentuh hati. Dan penerjemahnya mampu membahasa-indonesiakannya dengan amat indah (lo boleh geer kok antie:P)

Seperti kata penerjemahnya, ending Atss emang amat indah dan manis. Meski ada yang bilang ceritanya sinetron sekali, tapi aku menyukai Atss. Kisah ini membuka wawasanku soal situasi Afghanistan selama dikuasai komunis Rusia, atau selama Taliban berkuasa. Bagaimana Rusia berusaha menghancurkan masyarakat religius Afghanistan dengan ideologi komunisnya, atau bagaimana fanatisme sempit beragama yang berusaha ditegakkan pemerintah Taliban. Hmmm membaca kekejaman Taliban tiba-tiba membuatku bersyukur hidup di negara (yang katanya) sekuler ini. Hihihi, amit-amit deh, ke mana-mana musti pake burqa. panas kali :P

Pokoknya, ATSS keren, baca deh, dijamin tidak rugi. yah, paling-paling sedikit berlinang air mata. :D

Pengarang: Theresa Tomlinson (www.theresatomlinson.com)
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit Atria (www.penerbitatria.com)

Setelah sekian lama tidak menulis review, akhirnya diriku pun tergoda untuk menulis lagi. I’ve read so many books, even though not as much as I used to, pi selalu males bikin reviewnya. Hihihi, sayang ya? Padahal menurutku penting bikin review, selain belajar menulis dari apa yang kita baca, seneng aja baca hasil review itu lagi kapan-kapan. Hihihi, mengingatkan kembali apa yang udah kita baca dan seberapa besar kita mengapresiasinya.

I’ve just read Wolf Girl. Novel yang sangat mengesankan yang menceritakan perjuangan Wulfrun, si gadis serigala yang berusaha menyelamatkan ibunya dari tuduhan pencurian atas sebuah kalung yang amat berharga. Untuk membuktikan ibunya tidak bersalah, Wulfrun harus melewati perjuangan yang tidak mudah. Dari berkelana ke tempat yang yang tak pernah dikunjunginya, hampir celaka karena ada yang berusaha menghalang-halangi niatnya, dan mengalami petualangan yang membahayakan bersama teman-temannya.

Novel ini berlatar kehidupan di Inggris pada zaman Anglo Saxon sekitar abad 6 s.d 7 M. (Btw, novel ini mengingatkanku pada Pope Joan, yang juga nyerempet-nyerempet budaya Anglo Saxon dan kehidupan di biara). Alkisah Wulfrun, anak perempuan Cwen si penenun tertangkap basah oleh Lady Irminburgh–orang yang diserahi tanggung jawab memimpin Biara Whitby saat sang Suster Kepala, Hild, sedang mengunjungi Bamburgh untuk menemui Sang Ratu Northumbria, Ratu Ianfleda–sedang mengenakan kalung batu akik merah yang berhiaskan burung yang sedang terbang dan memiliki bandul salib.

Tak mungkin keluarga Wulfrun yang miskin memiliki kalung tersebut. Cwen mengaku mendapatkan kalung tersebut dari seorang Ibu dan dua anaknya saat dia berumur 10 tahun. Kala itu dia seorang gadis nelayan yang sedang mendorong perahu di pantai. Tak dinyana dia bertemu dengan Ibu dan dua anaknya, dua orang biarawan serta seorang pelayan hendak melarikan diri dari kejaran musuh. Cwen menolong mereka dengan mendorong perahunya ke perahu yang lebih besar yang hendak ditumpangi mereka. Sebagai imbalannya, sang Ibu menghadiahinya kalung indah tersebut. (Belakangan diketahui kalau Ibu tersebut adalah Ratu Tata, permaisuri Raja Edwin yang melarikan diri dari kejaran Raja Penda.)

Penjelasan itu terdengar tak masuk akal, Lady Irminburgh menyuruh Ulfstan, si penjaga biara, untuk menahan Cwen dan bermaksud mengadilinya dengan hukuman gantung, cambuk, atau rajam. Wulfrun sangat sedih, merasa menjadi penyebab ditahannya Ibunya. Kini ia cuma tinggal berdua adiknya, Gode yang masih berumur lima tahun. Satu-satunya tetangga yang masih peduli pada mereka adalah Fridgyth dan temannya, Cadmon si penggembala sapi. Fridgythlah yang menyarankan agar Wulfrun berusaha mencari tahu soal kalung tersebut untuk menghindarkan ibunya dari hukuman. Yang berhak mengadili Cwen adalah sang Suster Kepala, Hild. Namun, Hild belum juga kembali hingga berbulan-bulan.

Beruntung Wulfrun diangkat menjadi pelayan Putri Elfeld, anak asuh Hild, yang sebenarnya adalah putri Raja Oswy dan Ratu Ianfleda. Elfled diserahkan pada Hild untuk diasuh dan kelak menjadi biarawati. Perkenalannya dengan sang putri sangat tidak sengaja, pada awalnya Wulfrun tidak menyukai sang putri, pada akhirnya sang putrilah yang percaya bahwa ibunya tak bersalah, dan berusaha membantunya mengetahui asal usul kalung tersebut. Masalahnya kalung tersebut ditahan oleh Lady Irminburgh, bahkan dia mengklaim bahwa kalung itu adalah miliknya. Padahal Putri Elfled yakin benar kalau kalung itu adalah milik neneknya, Ratu Tata, karena dia memiliki gelang yang merupakan pasangan dari kalung tersebut.

Lady Irminburgh berusaha menghalang-halangi niat Wulfrun untuk mencari informasi mengenai kalung itu. Berkali-kali ia berusaha mencelakakan Wulfrun. Namun Wulfrun beserta Putri Elfled, dan Adfrith, sang biarawan terus berusaha membuktikan bahwa Cwen tak bersalah dan kalung itu juga bukan milik Irminburgh. Yang membuat masalah semakin rumit adalah Irminburgh memengaruhi Pangeran Ecfrid, kakak Putri Elfled, untuk memberontak dan merebut tahta Deira dari tangan Pangeran Alchfrid, yang merupakan kakak tiri Ecfrid. Ecfrid yang masih muda dan polos tergoda oleh kecantikan Irminburgh dan menuruti setiap keinginannya.

Masalah mencapai puncak saat Elfled yang kesal dengan Ecfrid dan Irminburgh melarikan diri dari Whitby dan berniat menemui Ibu Ratu Ianfleda di Bamburgh. Wulfrun, Adfrith, dan Cadmon menyusul sang putri akhirnya mereka bersama-sama berkelana menuju Bamburgh. Setelah melalui perjuangan panjang kedinginan, kelaparan selama di perjalanan, dan hampir mati karena pasir isap, mereka sampi di Bamburgh. Mereka berhasil menemui Hild dan Ratu Ianfleda. Sang Ratu membenarkan bahwa dia telah menghadiahkan kalung itu pada Cwen, si gadis nelayan pada waktu itu. Pertemuan antara Ianfleda dan Elfled sangat mengharukan karena mereka telah terpisah selama 10 tahun. Mereka semua kembali ke Biara Whitby dengan menggunakan Kapal Royal Edwin dan berhasil menggagalkan rencana jahat Irminburgh. Cwen dibebaskan dan diangkat menjadi kepala penenun biara, dan Wulfrun, si gadis serigala, diangkat menjadi penjaga, kakak, dan teman bagi Elfled

Sejarah Biara Whitby

Semua cerita mengenai Biara Whitby, Suster Kepala Hild, Ratu Ianfleda, dan Raja Oswy adalah benar adanya. Penemuan kalung emas dengan hiasan batu akik merah dan rencana pemberontakan Ecfrid serta Irminburgh adalah rekaan semata; walaupun menurut Bede, istri kedua Ecfrid memang bernama Irminburgh atau Iurminburgh.

Pas baca novel ini aku jadi semakin tertarik dengan sejarah Anglo Saxon itu. Dan lo pernah denger Elf dong, manusia peri yang ada di The Lord of the Rings. Ratu Ianfleda memanggil Elfled, dengan: Elf mungilku. Hmm si Elfled memang digambarkan cantik dan berambut ikal keemasan seperti peri. Dulu orang-orang Inggris memuja Freya dan Woden sebelum Kristen akhirnya diterima menjadi keyakinan mereka. Pada abad itu, meskipun mereka sudah memeluk Kristen, kepercayaan akan Freya dan Woden masih belum bisa sepenuhnya hilang. Terkadang mereka berdoa demi Freya dan Woden dan bukan demi Yesus Kristus.

Nama-nama dalam novel ini memang sangat susah dieja (apalagi ditulis). Seperti misalnya Fridgyth, Ulfstan, Elfled, Adfrith, dll. Tapi secara umum novel ini menyenangkan banget dan begitu mulai membacanya lo gak bisa berhenti sampai halaman terakhir. Yah, intinya novel ini sangat aku rekomendasiin untuk dibaca. Terutama lo Fi, Ri, lo kan suka novel sejarah bukan? (lo suka gak ya, Nov?)

Judul: Teras Terlarang
Penulis: Fatima Mernissi
Penerbit Mizan

Kemaren, sambil nunggu daus mewawancarai salah seorang nara sumber untuk tesisnya, gue baca lagi bukunya Fatimah Mernissi, Teras Terlarang. Gue beli buku itu Sepetember 2001. Dulu gue terkesan banget sama buku itu. Gue juga inget buku itu dipinjam Riri bertahun-tahun, dipinjam Asfi setahun, hehehe, masih inget gue! Yang jelas I find that this book is still inspiring till now. Gue bahkan sampai terkagum-kagum ternyata dulu gue juga udah mengapresiasi buku ini dengan bagus (shah).

Buku ini bercerita masa kecil Fatima Mernissi, yang tinggal di sebuah harem domestik yang terletak di Fez, sebuah kota di Maroko. Ini berarti dia tinggal dengan keluarga besarnya, yang terdiri dari nenek, paman, sepupu, bibi, dll. Dan yang paling menjemukan adalah para perempuan dikurung di dalam harem tanpa boleh keluar dari rumah, karena di depan ada penjaga pintu, si Ahmed, yang galak. Di sana juga batas (hudud) antara lelaki dan perempuan yang tidak boleh dilanggar.

Beruntunglah Fatima lahir di zaman yang para perempuan sudah mulai sadar akan persamaan haknya dengan lelaki. Neneknya, Yasmina, yang hidup bersama 7 madunya selalu mengatakan bahwa dia bahagia nanti pada zaman Fatima, para perempuan tidak usah harus berbagi suami seperti dirinya. Karena dia harus menunggu 8 hari untuk bisa berduaan dengan suaminya, karena suaminya punya 8 istri termasuk dirinya. Meskipun menurutnya dia juga harus bersyukur karena para istri Raja Harun al-Rasyid, salah seorang raja di Baghdad, harus menunggu selama hampir tiga tahun (sembilan ratus sembilan puluh sembilan malam) untuk sekadar berduaan dengan suaminya karena sang raja punya seribu jaryas (gadis budak). Sadis gak siy?

Untuk Yasmina yang hidup di zaman itu, gue sangat kagum pada pemikiran-pemikirannya, nasihatnya untuk Fatima, dan cara-caranya menyelesaikan masalah dengan madu2nya tanpa merasa benci ataupun cemburu. Pada zaman itu, perhimpunan perempuan muslim di Maroko tengah berjuang bagi penghapusan poligami. Akan tetapi, pembuat undang-undang, kaum laki-laki, menyatakan bahwa poligami adalah hukum syariah, hukum agama, tidak dapat diubah. Bahkan kaum fundamentalis mengeluarkan fatwa bahwa tuntutan perhimpunan perempuan tersebut adalah bid’ah. Pembelaan kaum fundamentalis atas poligami dan perceraian dalam praktiknya merupakan serangan terhadap hak-hak perempuan untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan hukum. Mereka hendak menunjukkan bahwa hukum ini bukan hendak melayani perempuan atau melindungi hak mereka atas kebahagiaan dan perlindungan emosional. Hwaaa sedih ya?

Banyak hal-hal yang disampaikan oleh nenek maupun ibu Fatima ini yang kugarisbawahi, di antaranya adalah:
1. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang perempuan, ketimbang disisihkan. (ini disampaikan nenek Fatima saat mengomentari Raja Faruk (salah seorang raja Mesir) yang menceraikan Ratu Farida karena sang Ratu tak melahirkan anak laki-laki.
2. Ketika Fatima terjun dari teras hingga lututnya berdarah, ibunya berkata bahwa masalah utama perempuan dialam kehidupan ini adalah bagaimana mendarat. Setiap kau berpikir untuk berpetualang, kau harus berpikir bagaimana mendarat, bukan bagaimana mendaki. Jadi, kapan saja kamu hendak terbang melayang, pikirkan bagaimana dan di mana kamu akan mendarat.
3. Yasmina meminta Fatima berhati-hati dalam menilai benar-salah. Menurutnya, ada sesuatu yang termasuk kedua-duanya, dan ada pula yang tidak termasuk kedua-duanya: “Kata-kata ibarat bawang, semakin banyak kulit yang kamu kupas, semakin dalam makna yang kautemukan. Dan ketika kau mulai menemukan kemajemukan makna , salah dan benar tidak lagi relevan.”

Masih banyak lagi kearifan yang akan kaudapat dari buku ini (shaaah). Dan banyak sekali hal-hal lucu yang dilakukan oleh perempuan-perempuan dalam harem itu untuk mengisi waktu mereka yang terkurung sepanjang hari di dalam harem. Dari memainkan operet yang wanita sekali, sampai mengendap-endap keluar dari harem demi menonton bioskop, atau bahagianya ibu Fatima dengan sekadar punya waktu bersama keluarga intinya di teras tiap malam bulan purnama.
Baca deh, gak nyesel kok.

Pengarang: Donna Woolfolk Cross
Penerjemah: FX Dono Sunardi
Penerbit Serambi

Gue baru saja selesai membaca sebuah novel yang benar-benar membuat gue berdarah-darah. Hwaaa sedih banget. Sedihnya mirip pas baca Snow Flower, pi yang ini lebih membuat gue kebayang-bayang terus sampai beberapa hari ini. Judulnya Pope Joan. Yak benar novel ini bercerita tentang seorang Paus perempuan yang bernama Joan, atau lengkapnya Johanna. Perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan penderitaan membuatku lagi-lagi bersyukur hidup di zaman sekarang, dan bukan pada zaman dulu yang hampir semua bangsa di setiap adat dan kebudayaannya, selalu menganggap rendah perempuan. Gue katakan semua karena gue sudah membaca beberapa literatur, baik berupa novel atau memoir yang intinya orang zaman dulu itu tidak menganggap perempuan sebagai makhluk yang penting selain untuk memuaskan laki-laki dan meneruskan keturunan, itu pun harus digarisbawahi, keturunannya harus laki-laki. Bagi mereka anak perempuan itu lebih rendah dari seekor anjing.

Dari masa kecil yang penuh tekanan ini Joan berkeyakinan tidak mungkin meraih obsesinya menguasai bidang keagamaan sebagaimana yang ia inginkan, bila ia tetap memosisikan diri sebagai perempuan. Ketika ada kesempatan untuk belajar agama atas undangan sababat bapaknya, Joan pergi meski tanpa persetujuan si ayah. (Meski dengan ini dia harus meninggalkan Mamanya yang sangat dicintainya, Gudrun, perempuan keturunan Saxon yang diperistri ayahnya ketika menjadi misionaris di daerah itu.) Sebab meski ia yang diundang, ayahnya ngotot bahwa saudara lakinya, John, yang dipaksa berangkat. Sekalipun si John tidak suka hal yang berkait dengan bahasa Latin, apalagi bahasa Yunani. Di tempat pengajaran ini Joan belum mengubah penampilannya sebagai laki-laki. Tetapi ia betul merasakan bagaimana diskriminasi yang ia terima sebagai seorang perempuan. Di tempat pengajaran ini Joan tinggal di tempat Gerold yang akhirnya menjadi kekasihnya dan ketika di Roma nanti akan banyak membantu Joan.

Joan banyak sekali menghadapi pahit getirnya pengalaman sebelum ia sampai ke Roma dan menduduki kepausan dengan nama John Anglicus. Antara lain, saat di Fulda dia diangkat sebagai pendeta berkat jasanya menyembuhnya seorang perempuan yang dituduh gereja terkena kusta. Si perempuan ini memiliki anak bernama Arn yang didiknya membaca dan berhitung. Arn-lah yang akhirnya membantu Joan dengan menemukannya terapung di perahunya dan merawatnya.

Dari tempat anak didiknya, Arn, Joan terobsesi ke Roma setelah merasa tak mungkin lagi ke Fulda. Di Roma ia berhasil mendapat tempat di dekat Paus Sergius berkat pengetahuan pengobatannya yang berhasil menyembuhkan si Paus. Di Roma ia harus bertarung dengan saudara Paus Sergius, Benedict, yang menjebaknya dengan tuduhan bercinta dengan seorang pasien perempuan hingga menjebloskannya ke penjara bawah tanah.

Pencapaian Joan sampai menjadi paus lebih dikarenakan keberuntungan. Usai Paus Sergius meninggal, terpilihlah Leo sebagai Paus. Pada masa Paus Sergius inilah Joan juga mengalami perjumpaan yang tak terduga dengan orang yang sangat dicintainya, Gerold. Pada masa Paus Leo, Gerold diangkat menjadi Superista, panglima tertinggi Kepausan, dan Joan diangkat menjadi nomenklatur, jabatan tertinggi Kepausan yang mengurusi bisang sosial. Kedatangan Gerold menumbuhkan naluri keperempuanannya yang selama ini dia jaga rapat. Di hadapan Gerold, Joan hanyalah perempuan biasa yang mendambakan kasih dan perlindungan. Tapi Joan dilanda kebimbangan yang amat sangat, antara mengikuti saran Gerold untuk segera meninggalkan Roma dan menjadi suami istri seperti yang mereka sama-sama dambakan atau tetap berada di Roma menurutkan hasratnya untuk menjadi laki-laki dan tidak menjadi perempuan dengan menjadi istri Gerold. Terbiasa menerima perlakuan sebagaimana laki-laki membuat Joan tak rela kembali menjadi perempuan, yang kala itu tugasnya hanya menyulam dan memasak.

Paus Leo tewas diracun oleh orang suruhan Arsenius, ayah Anastasius, orang yang sangat berambisi menjadikan putranya sebagai Paus. Kematiannya membuat Anastasius memanfaatkan situasi dengan mengklaim tahta Kepausan telah jatuh ke tangannya. Hal ini tentu tidak disukai banyak pihak gereja karena semua orang tahu betapa liciknya Anastasius. Sampai kemudian terjadi perseteruan di kalangan gereja Roma dan Joan secara tak terduga ia terpilih sebagai Paus. Hal ini tentu dengan pertimbangan kecerdasan tanpa cela selama Joan berada di Roma. Di sinilah saat yang paling menegangkan Joan sepanjang penyamarannya diuji. Bila sebelumnya ia berada dalam posisi yang tidak begitu penting hingga tidak menjadi pusat sorotan, kini tidak lagi. Ia menjadi sumber keputusan dan sumber kebenaran.

Pada saat menjadi Paus ini Joan memutuskan untuk membuat sekolah untuk perempuan yang menyulut terjadinya perdebatan antara pihaknya dengan Anastasius. Apalagi saat itu dia dihadapkan pada kenyataan bahwa dia mengandung anak Gerold. Hal ini semakin membuat Gerold memaksanya untuk segera meninggalkan Roma. Karena hanya Gerold satu-satunya orang yang Joan bisa percaya di Roma, proyek tersebut mengarahkan dia pada tuduhan konspirasi Yunani untuk menguasai Roma. Meski tuduhan ini dapat disanggah Joan, Anastasius dkk tidak terima dan merencanakan sebuah penyerangan pada hari perayaan Paskah. Pada saat perayaan itulah Gerold dijebak dan terbunuh dan secara prematur Joan melahirkan anaknya di tengah ketegangan akibat serangan Anastasius. Penyamaran Joan terkuak oleh orang banyak sekaligus menjadi akhir hidupnya.

Karena terpilihnya Joan yang seorang perempuan menjadi Paus sangat memalukan Gereja, segala catatan mengenai kepemimpinannya sengaja dihapus oleh gereja sehingga hanya disebut sebagai legenda saja. Adalah Anastasius, yang sampai tua sama sekali tidak berhasil menjadi paus—tetapi dia menjadi kepala perpustakaan dan dia menyusun Kitab para Paus, sengaja menghilangkan nama Joan sebagai salah satu Paus yang pernah ada. Hal ini memuaskan dendamnya karena dia sama sekali jadi tidak punya kesempatan untuk menjadi paus. Tapi, usahanya sia-sia karena ada Uskup dari fulda, yang bernama Arnaldo memasukkan kembali nama Joan diantara daftar-daftar Paus yang pernah ada. Perlu diketahui Arnaldo adalah Arnalda, putri dari Arn, yang sangat terinspirasi oleh Joan sehingga mengikuti jejaknya berpura-pura menjadi laki-laki.

Aaah, pokoknya kalian harus baca. 4 thumbs up dah. :-)

The Rule of Four

Pengarang: Ian Cadwell & Dustin Thomason

Penerjemah: Olivia Imelda Tanjung

Penyunting: Ella Elviana

Penerbit Serambi

Novel ini sebenarnya agak terlambat terbit di Indonesia, pas kita lagi hangat2nya The Da Vinci Code, di luar The Rule of Four dah jadi bahan pembicaraan. Bahkan sampe ada komentar bila Umberto Eco sama Dan Brown nulis novel bareng, hasilnya ya The Rule of Four ini.

Bercerita soal persahabatan 4 orang mahasiswa Princeton University: Tom, Paul, Charlie, dan Gil. Paul dan Tom sangat terobsesi dengan Hypnerotomachia Poliphili sebuah buku misterius yang terbit lebih dari 500 tahun yang lalu dan dipercaya menyimpan rahasia zaman Renaisance. Ketertarikan yang sama pada buku ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain dibanding dengan 2 sahabat mereka yang lain.

Paul mengangkat tema Hypnetoromachia Poliphili untuk tesisnya, dan didukung penuh oleh Tom. Berdua mereka menyelidiki segala petunjuk mengenai buku misterius tersebut, yang bagi Tom merupakan suatu dilema. Ibunya pernah membuatnya berjanji untuk tidak tergiur oleh pesona sang buku. Hal ini bukan tanpa alasan, karena ayah Tom, Patrick Sullivan menghabiskan sepanjang hidupnya untuk menyelidiki buku tersebut sehingga Ibu Tom merasa diabaikan, atau setidaknya merasa diduakan cintanya.

“Agar kau bahagia, yang dibutuhkan hanyalah mencintai hal-hal yang tepat, dalam jumlah yang cukup. Bukan uang. Bukan buku. Tetapi manusia.” Begitu pesan Ibunya. Tetapi Tom bukannya lupa pesan Ibunya, tapi pesona Hypnerotomachia Poliphili memang tak terelakkan. Sekadar kemauan tak akan berhasil, pada akhirnya Tom dihadapkan pada pilihan yang sulit, antara ingin membantu Paul dalam penyelidikannya, dan tentu saja menyelesaikan penelitian ayahnya selama ini (Ayah Tom sudah meninggal karena kecelakaan mobil) dengan mematuhi pesan Ibunya serta gadis yang ia cintai, Katie.

Bersetting di kampus, membuat The Rule of Four juga menceritakan detail kehidupan di Princeton, berikut kebiasaan-kebiasaannya, dari parade bugil, pesta dansa, perayaan paskah sampai pemilihan klub mana bagi mahasiswa baru. Meskipun ceritanya berjalan lambat (dan gue hampir menyerah saking bosennya) tapi setelah meneguhkan hati, gue jadi lebih bisa menikmati novel ini. Endingnya sebenarnya tidak seperti yang gue harapkan, tapi paling tidak gue tahu pada akhirnya pilihan mana yang diambil Tom. Dan keputusannya cukup memuaskan gue. Pengen tahu endingnya juga? Baca dong.

Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Lina Jusuf
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Februari 2005
Tebal : 258 hal
ISBN : 979-91-0025-9

Bunuh diri adalah pilihan tragis yang dilakukan manusia ketika persoalan hidup terasa begitu menghimpit jiwanya dan tak ada pilihan lain untuk menyelesaikannya. Berbagai macam persoalan hidup bisa memicu seseorang untuk bunuh diri mulai dari yang ringan seperti diejek teman, tak bisa membayar SPP hingga yang rumit seperti kehidupan rumah tangga yang hancur, terbelit hutang, dll.

Namun, kita belum pernah mendengar kasus bunuh diri terjadi karena semata ingin keluar dari rutinitas keseharian yang membosankan. Kalaupun seseorang merasa jenuh dengan rutinitasnya, biasanya yang terpikir dilakukan adalah keluar dari rutinitas dan mencari hal-hal baru dengan refreshing, membaca buku, nonton film, pindah pekerjaan, dll. Jarang sekali rasanya seseorang berpikir untuk membuang kebosanan rutinitas hidup dengan cara bunuh diri.

Bunuh diri. Itulah yang dipilih Veronika tokoh sentral dalam novel ke-11 Paulo Coelho yang berjudul “Veronika Memutuskan Mati” untuk keluar dari rutinitas hidupnya.

Veronika adalah seorang gadis cantik berusia 24 tahun, sejak lama tinggal sendirian dalam sebuah kamar sewaan di sebuah biara di Ljubljana-Slovenia (pecahan Yugoslavia), ia bekerja sebagai pustakawan dengan karir yang menjanjikan. Tidak ada yang salah dengan pergaulannya, ia memiliki banyak teman dan kecantikannya membuat ia mudah dalam mendapatkan teman kencan. Namun, semuanya itu tak membuatnya bahagia rutinitas hidup membuat ia merasa hampa dalam hidupnya. Kebosanan dan kehampaan ini membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menelan pil tidur hingga overdosis.

Ternyata Veronika tak tewas karena pil berdosis tinggi itu. Nyawanya terselamatkan, namun tindakan Veronika ini dianggap tidak lazim oleh keluarganya. Ia dinilai telah melanggar kelaziman hakikat hidup manusia yang seharusnya berjuang untuk hidup. Ia dianggap gila sehingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Akibat usaha bunuh dirinya itu Veronika divonis jantungnya terlanjur rusak dan ia hanya dapat bertahan hidup selama seminggu saja. Hari-hari penantian Veronika di rumah sakit jiwa inilah yang mengisi seluruh novel ini. Dalam penantiannya Veronika bertemu dan berdialog dengan para penghuni di rumah sakit jiwa itu. Zedka, seorang yang depresi karena memiliki kekasih khayalan, Mari seorang pengacara yang menderita panic attack, dan Eduard yang terkena skizofrenia.

Perjumpaannya dengan ketiga orang ini membuat Veronika yang awalnya selalu berpikir untuk kabur dari rumah sakit lambat laun menjadi betah. Ia juga merasa memiliki kebebasan karena ia merasa dirinya akan segera mati dan bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki dalam sisa hidupnya. Hidup dalam lingkungan orang-orang gila lambat laun membuatnya nyaman karena tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tingkahnya yang mungkin dianggap gila oleh orang di luar tembok rumah sakit.

Sosok tokoh direktur rumah sakit jiwa Dr. Igor juga memainkan peran penting dalam novel ini. Eksperimen dan penelitian yang dilakukan terhadap para pasiennya akhirnya memberi pengaruh besar pada Veronika ketika ia menjalani hari-harinya di rumah sakit jiwa.

Bagaimana akhir dari hidup Veronika? Pembaca akan mengetahuinya di lembar-lembar terakhir novel ini. Coelho mengemas novel ini menjadi begitu menarik, pengalaman Coelho yang pernah dimasukkan oleh orang tuanya dalam sebuah rumah sakit jiwa membuat apa yang ditulisnya mengenai suasana rumah sakit dan pengobatan-pengobatan yang dilakukan oleh para dokter terkesan begitu detail, hidup, dan menarik. Walau novel ini disertai uraian dari sudut pandang psikiatri dan spiritual yang dalam serta sarat makna namun kesederhanaan bahasa dan terjemahannya yang baik membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaannya yang sangat tinggi. Tidak hanya itu saja novel ini juga menghadirkan pertanyaan besar apa sebenarnya dasar seseorang dianggap normal atau gila. Apakah seseorang dianggap normal jika mengikuti semua norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat? Sementara seseorang yang mencoba hidup melanggar norma dan berbeda dengan kebiasaan masyarakat patut divonis gila?

Coelho memang tidak secara gamblang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun novel ini mampu membawa pembacanya menyelami kehidupan dirinya sendiri dan menyadarkan bahwa sesungguhnya batas antara normal dan kegilaan sangatlah tipis. Terlebih lagi novel ini memberikan bahan perenungan bagi pembacanya mengenai pencarian makna hidup dalam masyarakat yang terbelenggu rutinitas tanpa jiwa dan takluk terhadap tekanan sosial.

Ingin tahu definisi gila yang sebenarnya? Wajib baca buku ini, deh!

Next Page »